senja tadi seketika membawaku pada malam malam dahulu. Malam yang memendarkan semua cahaya, tak ada yang jelas, semua pandangan membiasakan apa yang kulihat saat itu. Aku masih ingat, mendengar mereka berbisik, mendengar bahasa yang terucap yang sungguh aku tak pernah menerimanya terucap, bahkan untuk kesekian kali nya.
kini, aku masih di liputi keraguan yang berakumulasi dari tahun ke tahun, kebimbangan yang berkelanjutan dan tak berhenti. akankah kau menemaniku? sanggup menerimaku? dan akan menyimpan masa-masa ini sampai nanti saat kita tua. Sampai saat nanti ketika aku atau kamu akan pergi dari dunia ini ?
cinta?
yang kuharapkan adalah kebahagiaan ketika aku melihatmu, ketika mata ini lelah, ketika aku ingin bersandar saat lelahku, dan ketika bahagiaku bisa kita rasakan bersama selamanya.
Mengapa diwajahmu tak terukir itu ? selalu saja bersedih tak beralasan, begitu yang selalu kau ungkapkan dan sangat tersembunyi, dalam mata.
aku pun tak bisa membaca matamu...
bisa kah kau membuat ini berbeda? dari kesemuanya tentang janji hidup, dan tentang semua tentang aku dan kamu...
Friday, October 23, 2009
Thursday, October 08, 2009
Monday, August 03, 2009
belajar berbohong
aku pernah berbohong...
aku pernah berbohong pada kehidupan bahwa aku memang seperti itu, dan kehidupan tak pernah menyadari kebohonganku
aku pernah berbohong pada mereka bahwa aku terlihat sesempurna itu, dan mereka mengiyakannya dengan yakin
aku pernah berbohong pada malam bahwa aku tak pernah keberatan dengan gelap yang kau ciptakan, dan malam pun sedikit berbagi cahayanya
aku pernah berbohong pada siang bahwa aku tak keberatan dengan teriknya, dan siang pun kini kian bangga dengan teriknya
aku pernah berbohong pada sahabatku bahwa aku akan baik-baik saja, dan dia sekarang mulai menyadari bahwa aku selalu bersedih
sekarang...
ada berjuta kebingungan untuk berbohong lagi... pada siapa dan kapan.
pada dia dan entah yang perduli pada ku, pada sahabatku yang mulai berbahagia, pada tahun depan yang entah akan seburuk apa.
kemudian...
aku harus dan harus berpikir lagi pada sudut kamar ini, kamar yang penuh dengan luka hati.
pada luka-luka itulah ku tuliskan di setiapnya apa yang bisa ku ingat. sedikit untuk bisa di ingat nanti di sudut sana.
selamanya...
pada seseorang yang telah berjuang membesarkanku yang seharusnya masih disini, ini adalah sedikit lagi luka yang tak pernah bisa hilang, selalu menemaniku pada setiap sujudku.
aku pernah berbohong pada kehidupan bahwa aku memang seperti itu, dan kehidupan tak pernah menyadari kebohonganku
aku pernah berbohong pada mereka bahwa aku terlihat sesempurna itu, dan mereka mengiyakannya dengan yakin
aku pernah berbohong pada malam bahwa aku tak pernah keberatan dengan gelap yang kau ciptakan, dan malam pun sedikit berbagi cahayanya
aku pernah berbohong pada siang bahwa aku tak keberatan dengan teriknya, dan siang pun kini kian bangga dengan teriknya
aku pernah berbohong pada sahabatku bahwa aku akan baik-baik saja, dan dia sekarang mulai menyadari bahwa aku selalu bersedih
sekarang...
ada berjuta kebingungan untuk berbohong lagi... pada siapa dan kapan.
pada dia dan entah yang perduli pada ku, pada sahabatku yang mulai berbahagia, pada tahun depan yang entah akan seburuk apa.
kemudian...
aku harus dan harus berpikir lagi pada sudut kamar ini, kamar yang penuh dengan luka hati.
pada luka-luka itulah ku tuliskan di setiapnya apa yang bisa ku ingat. sedikit untuk bisa di ingat nanti di sudut sana.
selamanya...
pada seseorang yang telah berjuang membesarkanku yang seharusnya masih disini, ini adalah sedikit lagi luka yang tak pernah bisa hilang, selalu menemaniku pada setiap sujudku.
Subscribe to:
Posts (Atom)